Indonesia Siap Kembangkan 27 Lokasi PLTS Jumbo Kapasitas 4,8 GW, Termasuk Batam?

  • Bagikan

Regional.co.id, BATAM: Indonesia masih memiliki potensi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung skala besar di 27 lokasi badan air dengan total kapasitas mencapai 4.8 gigawatt dan setara investasi US$3,84 miliar atau Rp55,15 triliun.

Menurut data Kementerian ESDM, saat ini terdapat 27 lokasi badan air yang memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dari 783 lokasi badan air yang tersebar di seluruh Indonesia .

“Total potensi yang dapat dikembangkan mencapai 4,8 GW dan setara dengan investasi sebesar USD 3,84 miliar (Rp55,15 triliun). Pemanfaatan potensi PLTS terapung ini akan mempercepat pencapaian target bauran energi terbarukan dan meraih target net zero emission lebih cepat dari tahun 2060,” ujar Fabby Tumiwa, Direktur Eksektutif Institute for Essential Services Reform (IESR), belum lama ini.

Pada November 2023 lalu, Pemerintah meresmikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung Cirata yang berlokasi di Waduk Cirata, Purwakarta, Jawa Barat. 

BACA JUGA:   Hanya Fokus Bangun PLTU, Indonesia Terlambat Kembangkan EBT

PLTS terapung Cirata memiliki kapasitas 192 megawatt peak (MWp), yang terbentang di area seluas 200 hektare. Terdiri dari 13 blok dengan lebih dari 340.000 solar panel, PLTS Cirata menjadi yang terbesar di Asia Tenggara, menggeser PLTS terapung Tengeh di Singapura. 

Menurut rilis resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pembangkit ini dapat memproduksi 245 juta kWh energi bersih setiap tahun, serta melistriki setara 50.000 rumah. PTLS Cirata diproyeksikan menekan emisi karbon lebih dari 200.000 ton per tahun. Adapun tarif listrik yang dipatok dari pembangkit surya ini cukup kompetitif dengan harga US$5,8 sen per kilowatt hour (kWh). 

IESR menilai, pengoperasian PLTS terapung Cirata menjadi tonggak akselerasi pengembangan pembangkit listrik tenaga surya berskala besar di Indonesia yang mati suri sejak 2020. 

“Indonesia harus mengoptimalkan potensi teknis PLTS yang mencapai 3,7 TWp sampai dengan 20 TWp untuk mendukung tercapainya target puncak emisi sektor kelistrikan di 2030, dengan biaya termurah,” kata Fabby. 

BACA JUGA:   PLN Cari Mitra Strategis Tawarkan 2 Proyek PLTS Terapung Kapasitas 200 MW

IESR mencatat, biaya investasi energi terbarukan PLTS saat ini semakin turun, sehingga menjadikannya sebagai pembangkit energi terbarukan termurah saat ini. Karena itu, IESR mendorong pemerintah dan PLN untuk memanfaatkan potensi teknis PLTS terapung yang mencapai 28,4 GW dari 783 lokasi badan air di Indonesia. 

Pemerintah dan PLN harus mengoptimalkan potensi PLTS terapung dengan menciptakan kerangka regulasi yang menarik minat pelaku usaha untuk berinvestasi di pembangkit ini. Salah satunya, dengan memberikan tingkat pengembalian investasi sesuai profil risiko, tetapi menarik dan mengurangi beban tambahan dalam mengelola investasi. 

Selain itu, pemerintah perlu memperhatikan skema penugasan PLN kepada anak perusahaannya, yang selama ini menjadi opsi prioritas pengembangan PLTS terapung. Melalui skema ini, anak perusahaan mencari pihak yang bersedia untuk berinvestasi atau equity investor untuk kepemilikan minoritas tetapi harus mau menanggung porsi equity yang lebih besar melalui pinjaman pemegang saham (shareholder loan).  

BACA JUGA:   Gurin Energy Berminat Bangun PLTS Kapasitas 2 GW di Karimun

“Skema ini menguntungkan PLN, tetapi memangkas pengembalian investasi bagi investor dan berisiko pada bankability proyek dan minat pemberi pinjaman. Skema ini juga dapat menciptakan persaingan usaha yang tidak sehat di antara para pelaku usaha, karena hanya mereka yang punya ekuitas besar saja yang bisa bermitra dengan PLN, dan mayoritas investor asing. Hal ini dapat berdampak pada minat investasi secara keseluruhan,” kata Fabby.  

Solusinya, menurut Fabby, membutuhkan dukungan pemerintah dengan cara pemerintah memperkuat permodalan PLN dan anak perusahaannya melalui penyertaan modal negara (PMN) khusus untuk pengembangan energi terbarukan. Cara lainnya dengan memberi pinjaman konsesi kepada PLN melalui PT SMI yang kemudian dapat dikonversi sebagai kepemilikan saham pada proyek PLTS terapung. (betahita/mrh)

  • Bagikan
223 views