Harga Beras Melambung Hingga Rp16.000/Kg, Ternyata Ini Penyebabnya!

  • Bagikan

Regional.co.id, JAKARTA: Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi mengungkapkan penyebab harga beras masih terlampau tinggi. Salah satunya karena produksi tengah terhambat akibat cuaca yang berdampak pada produksi gabah kering panen (GKP).

“Kenapa harga beras tinggi? Harga beras tinggi karena produksinya berkurang, kenapa produksi kurang? Karena tanamnya tertunda, kenapa tertunda? Karena ngga ada air,” kata Arief dalam Seminar Hasil Riset Ketahanan Pangan Nasional Nagara Institute, dikutip Rabu (21/2/2024).

Adapun pada Januari dan Februari Indonesia mengalami defisit 2,8 juta ton beras, sedangkan kebutuhan masyarakat sebulan mencapai 2,5-2,56 juta ton. Sayangnya pada saat panen gabah, GKP terbatas dan membuat terjadi perebutan gabah GKP di sawah yang membuat harganya naik. Sementara penggiling padi tidak bisa menggiling secara optimal karena GKP berkurang.

BACA JUGA:   Flu Burung Merebak, Brasil Umumkan Darurat Kesehatan Hewan

“Harga gabah naik Rp 8.000-8.600/Kg. Harga beras secara mudah 2x harga gabah, jadi kalau ada yang menyampaikan Bapanas ngga berhasil, bukan. (Tapi) Karena harga gabah kali ini Rp 8.000-8.600, maka harga berasnya Rp 16.000, kenapa sekarang harganya masih ada yang 14-15 ribu? Karena pemerintah melakukan importasi terukur 3,5 juta ton,” kata Arief.

Panel Harga Badan Pangan mencatat, hari ini Rabu (21/2/2024, data pukul 10.00 WIB), harga beras premium naik lagi Rp190 ke Rp16.350 per kg dan beras medium naik Rp40 ke Rp14.160 per kg.

Harga tersebut adalah rata-rata harian nasional di tingkat pedagang eceran. Data ini masih mungkin berubah hingga siang hari, setelah data dari seluruh Indonesia masuk.

BACA JUGA:   Ekspor Kepri Tahun 2023 Melambat 3.03%

Secara global, harga pangan dunia juga naik. Beberapa waktu lalu, harga beras berkisar US$460-450 per metrik ton, namun hari ini US$630-670 per metrik ton atau naik US$200. Ketika kurs saat itu di Rp 13.500 per dolar AS dan kurs saat ini Rp 15.700 per dolar AS maka harganya terjadi kenaikan. Dan besarnya impor tentu mendorong geliat pertanian di negara lain.

“Makanya ini waktunya kita semua mengembalikan giat ekonomi di Thailand, Vietnam ke Indonesia, tapi harus disiapin. 8 bulan terakhir kita produksi kalah sama konsumsi, jadi kalau produksi kalah dari konsumsi sementara tahun lalu surplus hanya 340 ribu ton, kebutuhan satu bulan kita 2,55 juta ton, itu sedikit sekali,” sebut Arief.

BACA JUGA:   Harga Sembako Tak Terkendali, Beras Pecah Rekor Lagi!

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebut sudah melaporkan kondisi perberasan kepada presiden, termasuk potensi mundurnya panen akibat masa tanam yang juga mundur. Sama seperti RI, negara lain pun terkena dampak serupa akibat fenomena El Nino.

“Kami coba komunikasikan di rakortas, ratas menyampaikan ke presiden kondisi El Nino saat ini sangat memprihatinkan, masa tanam mundur 2 bulan, bahkan diperkirakan 3 bulan dan seterusnya, ini akan berdampak kepada produksi 2024. 1-2 bulan lalu ketemu Dubes Thailand, mereka juga mengalami penurunan produksi karena El Nino,” sebut Amran. (cnbcindonesia/mtn)

  • Bagikan
72 views