Ngeri! Banyak Pabrik Di Jabar Tutup, Ternyata Ini Biang Keroknya!

  • Bagikan

Regional.co.id, JAKARTA: Fenomena banyaknya pabrik di sektor padat karya yang tutup di provinsi Jawa Barat diakui Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani.

Di Jawa Barat, Shinta melihat industri garmen dan tekstil lah yang paling banyak merumahkan karyawan, hingga melakukan penyetopan produksi atau menutup pabrik.

“Kami melihat garmen (dan) tekstil itu yang paling berpengaruh dari segi merumahkan karyawan sampai banyak pabrik yang tutup. Kalau di sektor-sektor lain masih cukup terkendali, mungkin ekspansi dijaga, jadi dia gak akan terlalu ekspansi,” kata Shinta saat ditemui di Kantor DPN Apindo Jakarta, Rabu (8/5/2024).

BACA JUGA:   Jangan Iri Ya! Presiden Jokowi Kucurkan Triliunan Rupiah Untuk Kembangkan KIT Batang

Adapun alasannya, ungkap Shinta, pabrik di Jawa Barat yang tutup itu diketahui pindah ke daerah Jawa Tengah, lantaran biaya upah yang lebih rendah dan adanya pertimbangan produktivitas yang lebih baik dibandingkan daerah sebelumnya.

“(Pabrik-pabrik itu) pindah ke daerah lain, (karena) upah-nya kan lebih rendah. Ada daerah lain yang mungkin upahnya lebih rendah, jadi mereka pindah karena alasan-alasan itu. Banyak (yang pindah) ke Jawa Tengah,” ungkapnya.

Shinta menyebut biaya menjalankan usaha atau cost of doing business benar-benar menjadi kunci, yang mana salah satunya terdiri dari upah tenaga kerja (labor cost).

BACA JUGA:   Tanggapi Soal Hilirisasi Nikel, Septian Hario Seto: Sesat Berpikir Faisal Basri!

“Jadi cost of doing business ini adalah momok yang harus menjadi perhatian, bagaimana caranya bisa kita kendalikan?” ucapnya.

Selain biaya menjalankan bisnis, termasuk juga upah tenaga kerja, Shinta menyebut peningkatan produktivitas pada akhirnya juga menjadi pertimbangan pada kondisi seperti sekarang ini, di mana permintaan sedang menurun.

Meski demikian, Shinta menekankan bahwa faktor kelangsungan usaha tidak hanya semata-mata dari segi upah tenaga kerja dan produktivitas saja, melainkan ada juga pertimbangan bahan baku dan lain sebagainya.

“Mungkin saja Jawa Barat tetap menjadi pertimbangan perusahaan karena kondisi lain. Jadi kita nggak bisa hanya semena-mena karena biaya tenaga kerjanya di daerah lain lebih rendah pindah langsung, engga,” pungkasnya.

BACA JUGA:   Cadangan Nikel RI Menipis, Diperkirakan Bertahan Hanya 7 Tahun
  • Bagikan
44 views