Penutupan Pabrik dan PHK di Industri Sepatu Diramal Terus Berlanjut, Siapa Korban Berikutnya?

  • Bagikan

Regional.co.id, JAKARTA: Penutupan pabrik Sepatu Bata beberpa waktu lalu diramal akan terus berlanjut dan gelombang PHK tidak dapat dihindari jika tidak ada upaya mengatasi masalah yang dihadapi para pelaku industri alas kaki di negara ini.

Founder & CEO PT Sumber Kreasi Fumiko Yongki Komaladi mengatakan, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga penutupan pabrik sepatu tidak akan berhenti di Sepatu Bata. Tapi, bakal ada pabrik-pabrik sepatu lain yang bernasib sama.

“UMKM di Indonesia pasti lebih terkesot-kesot lagi, lebih susah lagi. Karena Bata perusahaan besar saja begini, apalagi UMKM yang kecil. Ini yang harus dipikirkan. Akibatnya begini, sebabnya kenapa? Nah ini yang harus dipikirin,” kata Yongki dalam Profit CNBC Indonesia, dikutip Kamis (16/5/2024).

“Saya merasa sayang sekali kalau UMKM yang sangat mengandalkan jual di lokal, pasti jauh lebih susah lagi dibandingkan Bata. Ini juga menjadi PR kita bersama bahwa apakah ini industri yang cukup punya kepadatan tenaga kerja yang luar biasa, harus dipikirkan. Perusahaan besar pasti punya strategi-strategi tertentu,” jelasnya.

Ia pun memprediksi, bakal ada pabrik-pabrik sepatu lainnya, terutama skala kecil-menengah yang akan menyusul Bata.

BACA JUGA:   Tutup Pabrik Kompresor di Singapura, Panasonic Pecat 700 Karyawan

“Menurut saya iya (pabrik lain menyusul Bata). Banyak sekali pabrik IKM yang bilang mereka sudah tak sanggup, tenaga kerjanya berkurang, dan mereka juga lebih berat menjual di lokal dan tidak terfasilitasi. Banyak IKM lokal mau branding tapi kalah,” katanya.

Karena itu, pemerintah diharapkan tak hanya bereaksi sesaat dengan adanya penutupan pabrik oleh Bata. Sebab, imbuh dia, jika pabrik sebesar Bata saja harus ambruk, bisa dibayangkan kondisi yang dialami IKM sepatu di dalam negeri.

Dia berharap pemerintah merumuskan penyebab kondisi yang dialami industri sepatu saat ini dan segera melakukan langkah-langkah antisipasi. Salah satu usulnya adalah agar pemerintah memfasilitasi produk IKM, tak cuma sekadar pameran, tapi juga agar branding produk lokal semakin kuat. Juga, mengkampanyekan cinta produk lokal.

“Dan, di sisi lain, IKM juga harus ubah mindset. Jangan nunggu bola, nunggu kesempatan. Tapi, harus jemput bola,” ujar Yongki.

Tantangan Industri Sepatu RI

Seperti diketahui, PT Sepatu Bata Tbk (BATA) menutup pabriknya yang berlokasi di Purwakarta. Alasannya, perusahaan mengalami pembengkakan biaya operasional yang memberatkan hingga merugikan. Akibat penutupan ini, sebanyak 233 pekerja pabrik kehilangan pekerjannya.

BACA JUGA:   Cadangan Nikel RI Menipis, Diperkirakan Bertahan Hanya 7 Tahun

Yongki memaparkan sederet persoalan yang dihadapi industri alas kaki-sepatu di dalam negeri. Mulai dari ketergantungan bahan baku impor hingga minimnya dukungan memasarkan produk di pasar domestik.

“Menurut saya, bahan baku itu salah satu hal yang susah didapat kalau di produksi lokal. Hampir 90% memang produk dari luar, utamanya China. Tapi kalau mengenai Bata, setahu saya Bata juga impor barang-barang dari seluruh negara yang mereka punya asosiasi sendiri, dari Malaysia, India, Singapura, mereka saling berbagi cerita dan mereka bisa membeli barang-barang dari luar,” paparnya.

Yongki berharap ada solusi mengatasi fenomena maraknya penutupan pabrik ini. Artinya, ucap dia, jangan hanya dilihat dari sebab atau akibatnya saja, melainkan dipikirkan bagaimana caranya menyiasati agar kejadian itu tidak terulang di UMKM.

“Dan bagaimana mengenai kebijakan juga yang harus dipikirkan, karena sekarang ini kita boleh dibilang 70% rata-rata produk itu bahan dari luar, tenaga kerjanya pun potensial sebesar apa, apakah se-profesional di negara lain. Hal-hal itu menjadi sesuatu yang harus mereka pikirkan kembali efisiensi dan segala macamnya,” cetus Yongki.

BACA JUGA:   Investasi Jumbo di Rempang, Ini Profil Keuangan dan Bisnis Xinyi!

Kerja Sama Mal

Yongki pun merekomendasikan solusi agar sepatu produksi lokal yang dihasilkan UMKM mampu menembus pasar luas. Dimulai dengan memfasilitasi produk-produk tersebut masuk ke mal. Sebab, ujarnya, banyak UMKM yang ingin melakukan branding produknya tapi kalah dengan brand-brand dari luar negeri yang justru mendapat fasilitas lebih banyak di mal-mal dalam negeri.

“Saya lihat mal-mal hanya memberikan tempat untuk brand-brand yang ternama, sedangkan UMKM juga padat karya yang mesti didukung. Jadi harus dipikirkan kesinambungan selama mereka menjadi produksi lokal yang seharusnya dicintai dan dikenal ke negara lain,” imbuh dia.

“Tolong bantulah UMKM yang sangat tidak punya kemampuan beradaptasi, bagaimana? Itu yang harus dipikirkan. Karena ini kan banyak tenaga kerja yang bagus, dan kita orang-orang yang kreatif yang saya berharap juga kita sebagai produksi lokal jangan hanya bisa copy produk orang. Kalau bisa ciptakan produk lokal yang berpotensial yang punya roh bagus, sehingga ini menjadi beda dengan produk yang dari China atau negara lainnya. Itu yang harus kita ubah cara berpikirnya secara UMKM,” pungkas Yongki. (cnbcindonesia/mrh)

  • Bagikan
93 views